Showing posts with label Artikel. Show all posts
Showing posts with label Artikel. Show all posts

Tuesday, September 25, 2012

Wanita Penghuni Syurga

Muncul pertanyaan di benak kita, apa yang menyebabkan kebanyakan wanita menjadi penduduk neraka? Dalam sebuah kisah ketika Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam dan para shahabatnya melakukan shalat gerhana, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam melihat Surga dan neraka.Ketika beliau melihat neraka beliau bersabda kepada para shahabatnya radhiyallahu 'anhum, “ … dan aku melihat neraka maka tidak pernah aku melihat pemandangan seperti ini sama sekali, aku melihat kebanyakan penduduknya adalah kaum wanita. Shahabat pun bertanya, “Mengapa (demikian) wahai Rasulullah?” Beliau Shalallahu ‘alaihi wassalam menjawab, “Karena kekufuran mereka.” Kemudian ditanya lagi, “Apakah mereka kufur kepada Allah?” Beliau menjawab, “Mereka kufur terhadap suami-suami mereka, kufur terhadap kebaikan-kebaikannya. Kalaulah engkau berbuat baik kepada salah seorang di antara mereka selama waktu yang panjang kemudian dia melihat sesuatu pada dirimu (yang tidak dia sukai) niscaya dia akan berkata, ‘Aku tidak pernah melihat sedikitpun kebaikan pada dirimu.’ ” (HR. Bukhari dari Ibnu Abbas radliyallahu 'anhuma)

 Dalam hadits lainnya, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam menjelaskan tentang wanita penduduk neraka, beliau bersabda, “ … dan wanita-wanita yang berpakaian tetapi hakikatnya mereka telanjang, melenggak-lenggokkan kepala mereka karena sombong dan berpaling dari ketaatan kepada Allah dan suaminya, kepala mereka seakan-akan seperti punuk onta. Mereka tidak masuk Surga dan tidak mendapatkan wanginya Surga padahal wanginya bisa didapati dari jarak perjalanan sekian dan sekian.” (HR. Muslim dan Ahmad dari Abu Hurairah radliyallahu 'anhu) 

Bagi para muslimah atau umumnya wanita ketika membaca atau mendengar hadist-hadist di atas sontak naik darah dan tidak bisa menerima sepenuhnya. Minimal akan berhujjah bahwasanya wanita bisa berbuat demikian karena ada penyebabnya, bukan tiba-tiba ingin berlaku demikian. Siapapun kalau ditanya tentu saja tidak ada yang ingin masuk neraka apalagi diklaim akan masuk neraka. Naudzubillah mindzalik!Memang, berlayar mengarungi bahterah rumah tangga itu tidak semudah yang dibayangkan. Seorang muslimah tepatnya seorang istri, tidak saja harus membekali dirinya dengan ilmu agama yang cukup tapi juga mutlak dibutuhkan mental baja dan manajemen yang baik dalam mengelola gelombang kehidupan beserta segala pernak pernik yang menyertainya. Ketika urusan rumah tangga tidak pernah ada habisnya, anak-anak rewel dan kondisi fisik sedang tidak fit, kemudian suami pulang kerja minta dilayani tanpa mau perduli dengan kondisi kita, biasanya, dalam kondisi seperti ini tidak banyak wanita yang tetap mampu mengendalikan kesabarannya. Manusiawi bukan? Belum tentu!Justru dalam situasi seperti inilah keimanan dan kesabaran kita akan teruji. Apakah kita masih bisa mengeluarkan kata-kata manis sekaligus rona muka penuh dengan senyum ketulusan? Sulit memang! Tapi sulit bukan berarti tidak bisa!

Jika kita cermati hadist diatas secara seksama, maka akan kita dapati beberapa sebab mengapa wanita bisa menjadi penduduk minoritas di surga, di antaranya :
1. Kufur terhadap kebaikan-kebaikan suami. Sebuah fenomena yang sering kita saksikan, seorang istri yang mengingkari kebaikan-kebaikan suaminya dalam waktu yang panjang hanya karena satu hal yang tidak sesuai dengan keinginannya. Padahal seharusnya seorang istri selalu bersyukur terhadap apa-apa yang diberikan suaminya, karena Allah SWT tidak akan melihat istri yang seperti ini sebagaimana dijelaskan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam,“Allah tidak akan melihat kepada wanita yang tidak mensyukuri apa yang ada pada suaminya dan tidak merasa cukup dengannya.” (HR. Nasa’i di dalam Al Kubra dari Abdullah bin ‘Amr).

2. Durhaka terhadap suami. Durhaka yang sering dilakukan seorang istri adalah durhaka dalam ucapan dan perbuatan. Wujud durhaka dalam ucapan di antaranya ketika seorang istri membicarakan keburukan-keburukan suaminya kepada teman-teman atau keluarganya tanpa alasan yang dibenarkan oleh syar’i. Sedangkan durhaka dalam perbuatan diantaranya bersikap kasar atau menampakkan muka yang masam ketika memenuhi panggilan suami, tidak mau melayani suami dengan alasan yang tidak syar’i, pergi atau ke luar rumah tanpa izin suami, mengkhianati suami dan hartanya, membuka dan menampakkan apa yang seharusnya ditutupi dari anggota tubuhnya, atau sebaliknya enggan berdandan dan mempercantik diri untuk suaminya padahal suaminya menginginkan hal itu.Jika demikian keadaannya maka sungguh merugi wanita-wanita yang kufur dan durhaka terhadap suaminya. Mereka lebih memilih jalan ke neraka daripada surga karena mengikuti hawa nafsu belaka. Jalan ke surga memang tidaklah dihiasi dengan bunga-bunga nan indah, melainkan melalui rintangan-rintangan yang berat dan terjal. Tetapi ingatlah di ujung jalan ini Allah menjanjikan surga bagi orang-orang yang sabar menempuhnya.Sementara, jalan menuju ke neraka penuh dengan keindahan yang menggoda dan setiap manusia sangat tertarik untuk melaluinya. Tetapi, sadarlah bahwa di ujung jalan ini, neraka telah menyambut dengan beragam siksa-Nya

Lalu, bagaimana caranya agar para wanita atau para istri tidak terperosok ke dalam nerakaJangan pesimis, masih banyak cara dan tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki diri jika kita ingin menjadi penduduk minoritas di surga.Masih ingat kan, ketika rasulullah bersabda dalam sebuah hadist shahih jami’, “Perempuan apabila shalat 5 waktu, puasa di bulan ramadhan, memelihara kehormatannya serta taat kepada suaminya, maka masuklah dia dari pintu surga mana saja yang dia kehendaki.” Mengacu dari hadist di atas, mari kita berlomba menegakkan sholat dengan lebih khusu’, memperbayak sholat-sholat sunah karena sholat yang benar dan khusu’ bisa membentengi diri kita dari perbuatan yang munkar. Selain puasa/shaum wajib di bulan romadhon, latihlah diri untuk terbiasa melakukan shaum sunah. Hiasilah diri dengan sabar dalam ketaatan dengan suami dan banyak-banyaklah beristigfar karena istigfar bisa meruntuhkan dosa-dosa kecil yang tidak kita sadari.

(Copy paste dari tulisan orang lain. Lupa sumber nya :( )

Thursday, August 30, 2012

Ketika Tangan dan Kaki Berkata


Di tahun 1997 saya bertemu Chrisye sehabis sebuah acara, dan dia berkata, "Bang, saya punya sebuah lagu. Saya sudah coba menuliskan kata-katanya, tapi saya tidak puas. Bisakah Abang tolong tuliskan liriknya?"  Karena saya suka lagu-lagu Chrisye, saya katakan bisa. Saya tanyakan kapan  mesti selesai. Dia bilang sebulan. Menilik kegiatan saya yang lain, deadline  sebulan itu bolehlah. Kaset lagu itu dikirimkannya,
berikut keterangan  berapa baris lirik diperlukan, dan untuk setiap larik berapa jumlah  ketukannya, yang akan diisi dengan suku kata. Chrisye menginginkan puisi  relijius. 
Kemudian saya dengarkan lagu itu. Indah sekali. Saya suka betul.

Sesudah seminggu, tidak ada ide. Dua minggu begitu juga. Minggu ketiga inspirasi masih tertutup. Saya mulai gelisah. Di ujung minggu keempat tetap  buntu. Saya heran. Padahal lagu itu cantik jelita. Tapi kalau ide memang  macet, apa mau dikatakan. Tampaknya saya akan telepon Chrisye keesokan  harinya dan saya mau bilang, " Chris, maaf ya, macet. Sori." Saya akan  kembalikan pita rekaman itu.
           
Saya punya kebiasaan rutin baca Surah Yasin. Malam itu, ketika sampai ayat 65 yang berbunyi, A'udzubillahi minasy syaithonirrojim. "Alyauma  nakhtimu 'alaa afwahihim, wa tukallimuna aidhihim, wa tasyhadu arjuluhum  bimaa kaanu yaksibuun" saya berhenti. Maknanya, "Pada hari ini Kami akan  tutup mulut mereka, dan tangan mereka akan berkata kepada Kami, dan kaki  mereka akan bersaksi tentang apa yang telah mereka lakukan." Saya tergugah.  Makna ayat tentang Hari Pengadilan Akhir ini
luar biasa!
Saya hidupkan lagi pita rekaman dan saya bergegas memindahkan makna itu ke larik-larik lagi tersebut. Pada mulanya saya ragu apakah makna  yang sangat berbobot itu akan bisa masuk pas ke dalamnya. Bismillah.  Keragu-raguan teratasi dan alhamdulillah penulisan lirik itu selesai. Lagu  itu saya beri judul Ketika Tangan dan Kaki Berkata.

Keesokannya dengan lega saya berkata di telepon," Chris, alhamdulillah selesai". Chrisye sangat gembira. Saya belum beritahu padanya asal-usul inspirasi lirik tersebut. Berikutnya hal tidak biasa terjadilah. Ketika berlatih di kamar menyanyikannya baru dua baris Chrisye menangis, menyanyi  lagi, menangis lagi, berkali-kali.

Di dalam memoarnya yang dituliskan Alberthiene Endah, Chrisye - Sebuah Memoar Musikal, 2007 (halaman 308-309), bertutur Chrisye: Lirik yang dibuat Taufiq Ismail adalah satu-satunya lirik dahsyat sepanjang  karier, yang menggetarkan sekujur tubuh saya. Ada kekuatan misterius yang  tersimpan dalam lirik itu. Liriknya benar-benar-benar mencekam dan  menggetarkan. Dibungkus melodi yang begitu menyayat, lagu itu bertambah  susah saya nyanyikan! Di kamar, saya berkali-kali
menyanyikan lagu itu. Baru  dua baris, air mata saya membanjir. Saya coba lagi. Menangis lagi. Yanti  sampai syok! Dia kaget melihat respons saya yang tidak biasa terhadap sebuah  lagu.
Taufiq memberi judul pada lagu itu sederhana sekali, Ketika Tangan dan Kaki  Berkata. Lirik itu begitu merasuk dan membuat saya dihadapkan pada kenyataan, betapa  tak berdayanya manusia ketika hari akhir tiba. Sepanjang malam saya gelisah.  Saya akhirnya menelepon Taufiq dan menceritakan kesulitan saya. "Saya mendapatkan ilham lirik itu dari Surat Yasin ayat 65..." kata Taufiq.  Ia menyarankan saya untuk tenang saat menyanyikannya. Karena sebagaimana  bunyi ayatnya, orang memang sering kali tergetar membaca isinya. Walau sudah ditenangkan Yanti dan Taufiq, tetap saja saya menemukan kesulitan saat mencoba merekam di studio. Gagal, dan gagal lagi.
Berkali-kali saya menangis dan duduk dengan lemas. Gila! Seumur-umur, sepanjang sejarah karir saya, belum pernah saya merasakan hal seperti ini.  Dilumpuhkan oleh lagu sendiri!
Butuh kekuatan untuk bisa menyanyikan lagu itu. Erwin Gutawa yang sudah senewen menunggu lagu terakhir yang belum direkam itu, langsung mengingatkan  saya, bahwa keberangkatan ke Australia sudah tak bisa ditunda lagi. Hari  terakhir menjelang ke Australia, saya lalu mengajak Yanti ke studio,  menemani saya rekaman. Yanti sholat khusus untuk mendoakan saya. Dengan susah payah, akhirnya saya bisa menyanyikan lagu itu hingga selesai.  Dan tidak ada take ulang! Tidak mungkin. Karena saya sudah menangis dan tak  sanggup menyanyikannya lagi. Jadi jika sekarang Anda mendengarkan lagu itu,  itulah suara saya dengan getaran yang paling
autentik, dan tak terulang!  Jangankan menyanyikannya lagi, bila saya mendengarkan lagu itu saja, rasanya  ingin berlari!
Lagu itu menjadi salah satu lagu paling penting dalam deretan lagu yang pernah saya nyanyikan. Kekuatan spiritual di dalamnya benar-benarbenar meluluhkan perasaan. Itulah pengalaman batin saya yang paling dalam selama  menyanyi.

Penuturan Chrisye dalam memoarnya itu mengejutkan saya. Penghayatannya terhadap Pengadilan Hari Akhir sedemikian sensitif dan luarbiasanya, dengan  saksi tetesan air matanya. Bukan main. Saya tidak menyangka sedemikian  mendalam penghayatannya terhadap makna Pengadilan Hari Akhir di hari kiamat  kelak.

Mengenai menangis menangis ketika menyanyi, hal yang serupa terjadi dengan  Iin Parlina dengan lagu Rindu Rasul. Di dalam konser atau pertunjukan, Iin  biasanya cuma kuat menyanyikannya dua baris, dan pada baris ketiga Iin akan  menunduk dan membelakangi penonton menahan sedu sedannya. Demikian sensitif  dia pada shalawat Rasul dalam lagu tersebut.
* *

Setelah rekaman Ketika Tangan dan Kaki Berkata selesai, dalam peluncuran album yang saya hadiri, Chrisye meneruskan titipan honorarium dari produser  untuk lagu tersebut. Saya enggan menerimanya. Chrisye terkejut. "Kenapa  Bang, kurang?" Saya jelaskan bahwa saya tidak orisinil menuliskan lirik lagu  Ketika Tangan dan Kaki Berkata itu. Saya cuma jadi tempat lewat, jadi  saluran saja. Jadi saya tak berhak menerimanya. Bukankah itu dari Surah  Yasin ayat 65, firman Tuhan? Saya akan bersalah menerima sesuatu yang bukan  hak saya.
Kami jadi berdebat. Chrisye mengatakan bahwa dia menghargai pendirian saya,  tetapi itu merepotkan administrasi. Akhirnya Chrisye menemukan jalan keluar.  "Begini saja Bang, Abang tetap terima fee ini, agar administrasi rapi. Kalau  Abang merasa bersalah, atau berdosa, nah, mohonlah ampun kepada Allah. Tuhan  Maha Pengampun 'kan?" Saya pikir jalan yang ditawarkan Chrisye betul juga. Kalau saya berkeras
menolak, akan kelihatan kaku, dan bisa ditafsirkan berlebihan. Akhirnya
solusi Chrisye saya terima. Chrisye senang, saya pun senang.
* *


Pada subuh hari Jum'at, 30 Maret 2007, pukul 04.08, penyanyi legendaris Chrisye wafat dalam usia 58 tahun, setelah tiga tahun lebih keluar masuk rumah sakit, termasuk berobat di Singapura. Diagnosis yang mengejutkan adalah kanker paru-paru stadium empat. Dia meninggalkan isteri, Yanti, dan  empat anak, Risty, Nissa, Pasha dan Masha, 9 album proyek, 4 album sountrack, 20 album solo dan 2 filem. Semoga penyanyi yang lembut hati dan  pengunjung masjid setia ini, tangan dan kakinya kelak akan bersaksi tentang  amal salehnya serta menuntunnya memasuki Gerbang Hari Akhir yang semoga  terbuka lebar baginya. Amin. #


Ketika Tangan dan Kaki Berkata

Lirik    : Taufiq Ismail
Lagu   : Chrisye

Akan datang hari mulut dikunci
Kata tak ada lagi
Akan tiba masa tak ada suara
Dari mulut kita

Berkata tangan kita
Tentang apa yang dilakukannya
Berkata kaki kita
Kemana saja dia melangkahnya
Tidak tahu kita bila harinya
Tanggung jawab tiba

Rabbana
Tangan kami
Kaki kami
Mulut kami
Mata hati kami
Luruskanlah
Kukuhkanlah
Di jalan cahaya.... sempurna

Mohon karunia
Kepada kami
HambaMu yang hina
1997
Ditulis oleh : TAUFIQ ISMAIL
Sumber: email forward-an seorang teman dr sebuah milis

MP, 14 Jan 2008

Das Sollen versus Das Sein


Tadi malam mendapatkan e-mail dari seorang teman. Emailnya berisi tentang artikel seputar perkembangan riset di Asia. Dibahas pula tentang kondisi riset di Indonesia yg memprihatinkan:
  • Jumlah peneliti di Indonesia 1:10.000, artinya setiap 10.000 penduduk terdapat 1 peneliti
  • Publikasi ilmuah Indonesia 0,012% dari total pulikasi ilmiah seluruh dunia.
Selengkapnya adalah sebagai berikut:
Das Sollen versus das Sein Agustus 13, 2006

Laporan terbaru yang dikeluarkan oleh UNESCO Institute for Statistic merupakan angin segar bagi perkembangan riset di kawasan Asia. Laporan tersebut mengatakan bahwaGERD (gross expenditure on research and development) yang dikeluarkan oleh Asia ternyata telah melampaui Eropa. Dana pengembangan dan riset untuk wilayah Asia sebesar 31,5 persen sedangkan Eropa 27,3 persen. Walaupun demikian wilayah Amerika Utara masih yang tertinggi yaitu 37 persen. Sisanya adalah Amerika Latin dan Karibia 2,6 persen, Oceania 1,1 persen, dan Afrika 0,6 persen. Cina menunjukkan pertumbuhan yang signifikan yaitu dari 4 menjadi 9 persen pada periode 1997 sampai 2002. Sementara pada periode yang sama Amerika Utara dan Eropa justru menunjukkan penurunan sebesar 1 persen.
Di negara-negara yang telah mengalami kemajuan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, publikasi internasional merupakan hal yang sangat penting. Bahkan gengsi suatu lembaga riset atau universitas ditentukan oleh banyaknya publikasi internasional yang dihasilkan oleh lembaga tersebut. Hal ini sangat berkaitan juga dengan dana riset yang bisa didapatkan.
Fakta saat ini menunjukkan bahwa kegiatan riset sudah merambah dan berkembang pesat di negara-negara Asia Pacific seperti yang diulas oleh majalah Nature. Hal ini dapat ditunjukkan dengan meningkatnya jumlah publikasi ilmiah yang mencapai 25 persen dari total paper ilmiah di seluruh dunia pada tahun 2004. Meskipun persentase ini masih lebih kecil dibandingkan paper ilmiah yang dihasilkan Eropa (38 persen) dan Amerika Serikat (33 persen), namun persentasi peningkatannya cukup besar jika dibandingkan dengan jumlah paper ilmiah yang dipublikasikan tahun 1990 yang hanya 16 persen.
Dalam laporan yang dibuat oleh UNESCO Institute of Statistic juga memuat jumlah peneliti per sejuta penduduk dari beberapa negara di dunia. Untuk kawasan Asia, Cina mempunyai jumlah peneliti terbanyak yaitu 810.500 orang disusul oleh Jepang 646.500 orang kemudian India 117.500 orang. Dengan melihat fakta bahwa jumlah peneliti seluruh Asia hanya 2.034.000 orang, maka jumlah peneliti di Indonesia pastilah sangat sedikit.Menurut data dari Dikti, jumlah peneliti Indonesia saat ini baru mencapai rasio 1: 10.000. Artinya, setiap 10.000 penduduk terdapat 1 peneliti. Dengan populasi penduduk Indonesia saat ini sekitar 220 juta jiwa, berarti baru terdapat sekira 22.000 peneliti. Namun demikian jumlah peneliti terbanyak setiap sejuta penduduk ditempati oleh Jepang yaitu 5.084,4 dan menempatkan Jepang sebagai nomor satu di dunia. Cina dan India masing-masing mempunyai 633 dan 112,1 peneliti setiap sejuta penduduknya. Sedangkan negara-negara yang sudah mapan dalam bidang riset seperti Amerika Serikat (4.373,7), Federasi Rusia (3.414,6), Jerman (3.208,5), Perancis (2.981,8) dan Inggris (2.661,9).
Indonesia masih harus prihatin di tengah kebangkitan negara-negara Asia yang lain dalam mempublikasikan paper yang bertaraf international. Data statistik menunjukkan bahwa publikasi ilmiah Indonesia hanya 0,012 persen dari total publikasi ilmiah dari seluruh dunia. Sebagai contoh, jumlah publikasi ilmiah Indonesia pada tahun 2004 hanya 522 paper ilmiah. Di antara negara Asia Tenggara jumlah paper Indonesia masih kalah jauh jika dibandingkan dengan Singapura (5781), Thailand (2397), dan Malaysia (1438).

Masalah dan Solusi
Publikasi ilmiah dihasilkan dari suatu penelitian. Penelitian dilakukan untuk menjawab permasalahan penelitian. Permasalahan penelitian merupakan kesenjangan antara “das Sollen” dan “das Sein” yaitu “apa yang seharusnya” dan “fakta yang ada”. Kurangnya sensitivitas peneliti Indonesia dalam merekam kejadian-kejadian di sekitar mereka merupakan kendala utama dalam menghasilkan suatu penelitian yang berkualitas. Peneliti harus dibekali dengan rasa keingintahuan yang sangat besar sehingga sekecil apapun perubahan yang terjadi dapat ditentukan akar masalahnya dan dipecahkan melalui kegiatan penelitian. Oleh karena itu latihan yang terus-menerus untuk melatih peningkatan sensitivitas terhadap perubahan-perubahan di lingkungan harus selalu dilakukan.
Tidak tersedianya sumber literatur yang memadai juga menjadi kendala utama. Bahan pustaka yang terbaru sangat diperlukan untuk mengetahui perkembangan ilmu terkini. Dengan mengacu pada perkembangan ilmu terkini maka hasil penelitian yang dilakukan juga up to date untuk ditulis dalam suatu publikasi internasional. Mengingat harga jurnal internasional yang sangat mahal, maka perlu dikembangkan kerjasama dengan institusi/universitas di luar negeri sehingga ada kesempatan untuk ke luar negeri dan mengakses jurnal-jurnal yang memuat perkembangan ilmu terkini. Kerjasama ini juga diharapkan menghasilkan suatu publikasi bersama (joint publication).
Rendahnya dana penelitian yang disediakan oleh pemerintah dan terbatasnya sarana penelitian juga merupakan kendala yang sangat berarti. Untuk menghasilkan penelitian yang komprehensif tentulah dibutuhkan dana dan sarana yang memadai. Oleh karena itu kerjasama antar lembaga riset dan universitas di Indonesia maupun dengan institusi lain di luar negeri harus ditingkatkan sehingga kita bisa memanfaatkan alat-alat dan sarana penelitian secara bersama-sama.
Hambatan yang sering diumpai jika ingin membangun kerjasama dengan institusi luar negeri adalah penguasaan bahasa Inggris. Fakta menunjukkan bahwa penguasaan bahasa Inggris masyarakat kita, khususnya dosen dan peneliti, masih harus ditingkatkan. Tanpa penguasaan bahasa Inggris yang baik, akan sangat sulit menjalin kerjasama dengan institusi luar negeri. Pembekalan bahasa Inggris harus diintensifkan mulai dini.
Sinergi kegiatan riset untuk menunjang arah kebijakan riset nasional belum optimal. Seyogyanya semua kegiatan riset di Indonesia diarahkan dan disinergikan untuk mewujudkan tujuan masing-masing unggulan riset nasional. Misalnya dalam bidang ketahanan pangan, kelautan, dan bioteknologi sehingga out put riset menjadi jelas dan terarah.
Budaya ilmiah di kalangan akademisi dan peneliti Indonesia masih sangat kurang. Budaya ilmiah dapat dibangun melalui pertemuan-pertemuan ilmiah. Lembaga riset dan universitas harus dipacu untuk mengadakan pertemuan-pertemuan ilmiah dalam bentuk seminar, workshop, koloqium dan lain-lain. Selain dapat merangsang semangat untuk meneliti, ajang ini juga dapat digunakan untuk mengetahui perkembangan ilmu terkini dan menjalin kerjasama antar lembaga untuk melakukan penelitian bersama. Yang terpenting adalah sarana untuk belajar menulis dan mengekspresikan hasil penelitian dalam bentuk tulisan secara logis dan kronologis.
Jumlah jurnal-jurnal ilmiah yang terakreditasi di Indonesia masih sedikit.Jurnal ilmiah terakreditasi nasional merupakan jembatan yang sangat penting untuk mempublikasikan paper di tingkat internasional. Oleh karena itu keberadaan jurnal-jurnal ini baik secara kuantitas maupun kualitas harus ditingkatkan. Melalui jurnal ini dapat diketahui sejauh mana perkembangan ilmu-ilmu tertentu.
Integrasi penelitian dalam mata kuliah harus dilakukan sejak dini sehingga Indonesia dapat menghasilkan peneliti-peneliti muda yang potensial. Hampir sebagian besar mahasiswa hanya melakukan satu kali kegiatan penelitian yaitu saat skripsi. Hal ini sangat tidak menguntungkan karena mahasiswa tidak mempunyai pengalaman yang cukup dalam bidang penelitian setelah mereka lulus. Oleh karena itu perlu adanya integrasi yang berkesinambungan penelitian dalam mata kuliah, misalnya metodologi penelitian sehingga sejak dini mahasiswa sudah dilatih untuk menulis karya tulis ilmiah dan melakukan penelitian.
Semangat hari kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 61 dapat dijadikan momen yang tepat untuk kebangkitan Indonesia dalam bidang science dan teknologi dengan cara meningkatkan penelitian yang beorientasi publikasi ilmiah internasional.
_____________________________________________________________________________
Dari artikel di atas setidaknya ada 8 permasalahan riset di Indonesia, yaitu:
  1. Kurangnya sensitivitas peneliti Indonesia dalam merekam kejadian-kejadian di sekitar mereka.
  2. Tidak tersedianya sumber literatur yang memadai
  3. Rendahya dana penelitian yg disediakan oleh pemerintah dan terbatasnya sarana penelitian.
  4. Permasalahan penguasaan bahasa Inggris dosen dan peneliti Indonesia ( permasalahan ini sering dijumpai jika ingin membangun kerja sama dengan institusi Luar Negeri).
  5. Sinergi kegiatan riset untuk emnunjang arah kebijakan risset nasional belum optimal.
  6. Budaya ilmiah di kalangan akademisi dan peneliti Indonesia masih sangat kurang.
  7. Jumlah jurnal-jurnal ilmiah yang terkareditasi di Indonesia masih sedikit.
  8. Integrasi penelitian dalam mata kuliah belum dilakukan sejak dini

Ini adalah PR bagi kita semua terutama generasi muda...



Note: Maaf sekali , sumber artikel ini tdk tercantum karena saya mendapatkannya jg tanpa sumber . Semoga tidak mengurangi maknanya.
Btw, ada yang tau? Tulisan ini adalah dalam rangka menyambut HUT negara kita Indonesia ke-61 di tahun 2006 lalu.

Friday, May 18, 2012

Keutamaan Ilmu [menurut Sayyidina Ali bin abi thalib]

Dulu sepertinya sudah pernah mendengarkan kisah ini, tapi lupa. Lalu di suatu siang, aku kembali mendengarkannya lewat suatu stasiun radio. Tertegun aku dibuatnya. Merasa dapat sebuah 'peringatan'. Akhirnya aku coba cari di internet kisah lengkapnya (di ringkas dari : http://www.facebook.com/notes/percik-kisah-hikmah-pemupuk-iman/ilmu-lebih-utama-daripada-harta/286364268116111)
---------------------------------

Ketika Nabi SAW telah wafat beberapa tahun lamanya, ada sekelompok orang yang meragukan keilmuan Ali. Sebagian riwayat menyebutkan, mereka itu dari kaum Khawarij, satu kelompok yang mendukung Ali bin Abi Thalib ketika terjadi pertentangan dengan Muawiyah. Tetapi ketika Ali ‘mengikhlaskan’ melepas jabatan khalifah, karena sebenarnya memang tidak berambisi, demi untuk persatuan umat Islam saat itu, kaum Khawarij itu berbalik melawan dan menentang Ali. Kaum Khawarij ini banyak penyimpangannya sehingga sebagian besar ulama menganggap sebagai kelompok yang sesat. 

Mereka ini bermusyawarah dan memutuskan akan mengirim sepuluh orang dengan masalah (pertanyaan) yang sama. Jika Ali memberikan jawaban yang sama walau dengan pertanyaan yang sama, maka sebenarnya Ali ‘tidak pantas’ menyandang gelar sebagai pintunya ilmu sebagaimana disabdakan Nabi SAW. 

1. Orang pertama datang menghadap Ali dan berkata, “Wahai Imam Ali, manakah yang lebih utama, ilmu atau harta??”
     “Ilmu” Kata Ali.
      “Mengapa ilmu lebih utama??” Katanya.
       Maka Ali berkata, “Sesungguhnya ilmu itu warisan para Nabi, sedangkan harta itu warisan dari Qarun, Fir’aun, Hammam, Syaddad dan lain-lainnya!!”
Orang pertama itu membenarkan dan berlalu pulang. Tentu saja jawaban Ali tersebut bersifat umum, karena ada juga orang yang diberikan kelimpahan harta, dan bisa memanfaatkan dengan baik untuk kemanfaatan hidupnya sesudah mati, baik di alam kubur, terlebih lagi di alam akhirat. Misalnya saja Ummul Mukminin Khadijah, istri Nabi SAW, Abu Bakar ash Shiddiq, Utsman bin Affan, Abdurrahman bin Aus, Qais bin Sa’d bin Ubadah, dan beberapa sahabat lainnya (Lihat kisah-kisah beliau dalam laman "Percik Kisah Sahabat Nabi Muhammad SAW"). Intinya, jika harta itu berada di tangan orang yang dermawan dan sangat perduli pada kaum fakir miskin, maka kedudukan harta tidak kalah utamanya dibandingkan ilmu.
            
2. Orang ke dua datang menghadap Ali dengan pertanyaan yang sama, dan Ali menyatakan ilmu lebih utama daripada harta. Tetapi ia menyampaikan alasan yang berbeda, “Ilmu akan menjagamu, sedangkan harta, engkau yang harus menjaganya!!”
Orang itu membenarkan Ali dan berlalu pulang, menyampaikan jawaban Ali kepada mereka yang menyuruhnya.
            
3. Ketika orang ke tiga datang dengan pertanyaan yang sama, Ali memberikan jawaban yang sama pula, kemudian ia menyampaikan alasannya, “Pemilik ilmu banyak sekali sahabatnya (dan murid-muridnya), sedang pemilik harta akan banyak sekali musuhnya (dan orang yang bermanis muka hanya untuk memperoleh pemberiannya, walau mungkin di dalam hati membencinya)!!”
Orang itu membenarkan Ali dan berlalu pulang, menyampaikan jawaban Ali kepada mereka yang menyuruhnya.
            
4. Ketika orang ke empat datang dengan pertanyaan yang sama, Ali memberikan jawaban yang sama pula, kemudian ia menyampaikan alasannya, “Ilmu akan bertambah jika engkau gunakan, sedangkan harta akan berkurang jika engkau menggunakannya!!”  Orang itu membenarkan Ali dan berlalu pulang, menyampaikan jawaban Ali kepada mereka yang menyuruhnya.

5. Ketika orang ke lima datang dengan pertanyaan yang sama, Ali memberikan jawaban yang sama pula, kemudian ia menyampaikan alasannya, “Pemilik ilmu akan selalu dihormati dan dimuliakan karena ilmunya, tetapi pemilik harta, akan ada saja yang memanggilnya sebagai si pelit, karena ia tidak memperoleh bagian dan manfaat dari harta tersebut!!” Orang itu membenarkan Ali dan berlalu pulang, menyampaikan jawaban Ali kepada mereka yang menyuruhnya.
            
6. Ketika orang ke enam datang dengan pertanyaan yang sama, Ali memberikan jawaban yang sama pula, kemudian ia menyampaikan alasannya, “Pemilik harta harus selalu hati-hati dan menjaga agar tidak diambil oleh pencuri, sedang pemilik ilmu tidak perlu menjaganya!!”  Orang itu membenarkan Ali dan berlalu pulang, menyampaikan jawaban Ali kepada mereka yang menyuruhnya.
            
7. Ketika orang ke tujuh datang dengan pertanyaan yang sama, Ali memberikan jawaban yang sama pula, kemudian ia menyampaikan alasannya, “Pada hari kiamat, pemilik harta harus susah payah mempertanggung-jawabkan hartanya, sedangkan pemilik ilmu akan memperoleh syafaat dari ilmu yang dimilikinya (dan diamalkannya)!!” Orang itu membenarkan Ali dan berlalu pulang, menyampaikan jawaban Ali kepada mereka yang menyuruhnya.
            
8. Ketika orang ke delapan datang dengan pertanyaan yang sama, Ali memberikan jawaban yang sama pula, kemudian ia menyampaikan alasannya, “Jika dibiarkan dalam waktu yang lama, harta akan menjadi aus dan rusak, sedangkan ilmu tidak akan menjadi aus dan lenyap!!”  Orang itu membenarkan Ali dan berlalu pulang, menyampaikan jawaban Ali kepada mereka yang menyuruhnya.
            
9. Ketika orang ke sembilan datang dengan pertanyaan yang sama, Ali memberikan jawaban yang sama pula, kemudian ia menyampaikan alasannya, “Harta bisa membuat hati menjadi keras dan akhirnya bersifat bakhil (karena terlalu cintanya kepada harta), sedangkan ilmu akan selalu menjadi penerang dan penyejuk hati!!”          Orang itu membenarkan Ali dan berlalu pulang, menyampaikan jawaban Ali kepada mereka yang menyuruhnya.
           
10. Dan akhirnya orang ke sepuluh datang dengan pertanyaan yang sama, Ali memberikan jawaban yang sama pula, kemudian ia menyampaikan alasannya, “Pemilik ilmu akan diberi gelar sebagai ilmuwan, sedangkan pemilik harta akan dipanggil atau digelari Tuan Besar!!”

Tampaknya Ali mengetahui (dengan ilham dari Allah, atau dari analisa pikirannya) niat dari orang-orang yang datang dengan pertanyaan yang sama tersebut, dan kepada yang terakhir datang itu, Ali berkata, “Andaikata kalian mengirim lebih banyak lagi orang dengan pertanyaan yang sama, pastilah aku akan memberikan alasan yang berbeda selagi aku masih hidup!!”
            
Memang, keutamaan ilmu atas harta tidak sepuluh itu saja, masih banyak lagi. Misalnya, pertanyaan akhirat (yaumul hisab) atas ilmu hanya satu, yakni apa dan bagaimana ilmu itu diamalkan? Sedangkan atas harta ada dua, pertama darimana dan bagaimana diperoleh harta tersebut diperoleh? Dan kedua, kemana dan bagaimana harta tersebut diamalkan (dibelanjakan)? Misalnya lagi, ketika seseorang meninggal, ilmu akan menemani pemiliknya hingga masuk kubur, bahkan bisa menjadi teman dan penolongnya menghadapi malaikat, tetapi harta hanya akan mengantarnya hingga ke pintu pemakaman, atau sampai ia diurug dengan tanah, setelah itu akan menjadi milik ahli warisnya. Dan masih banyak lagi yang bisa dikupas dari berbagai hadits-hadist Nabi SAW.   
           
 Setelah kembali dan menyampaikan pesan tersebut, mereka (kaum Khawarij itu) berkhidmad kembali kepada Ali bin Abi Thalib dan memperbaiki keislamannya dengan bimbingan beliau. 

Tuesday, May 1, 2012

Buruh?

Heboh Peringatan Hari Buruh dunia membangunkan rasa penasaranku tentang pengertian buruh itu sendiri. Sering diucapkan dan di diskusikan, tapi aku masih meragukan pengetahuanku tentang pengertian dari "buruh" itu sendiri. Apakah buruh itu sama dengan pekerja/pegawai? atau hanya berbeda pada jumlah gaji yg diterima?

Dimulailah penelurusan di internet dan inilah yg kutemukan:

1. Pengertian Buruh [1]
   a. Menurut Karl Marx entang nilai lebih, disebutkan bahwa buruh adalah kelompok yg terlibat dalam penciptaan nilai lebih, sedangkan majikan adalah kelompok yang memiliki dan menikmati nilai lebih itu.
   b. Menurut Pasal 1 angka 2 UU Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan: 
” Pekerja/buruh adalah setiap orang yang bekerja dengan menerima upah atau imbalan dalam bentuk lain”
   c. Menurut teori dalam konteks kepentingan: Buruh adalah orang-orang yang perintah dan dipekerjanan yang berfungsisebagai salah satu komponen dalam proses produksi.

2. Perbedaan pengertian buruh, swapekerja dan pegawai [2]

Buruh/Pekerja
Swapekerja
Pegawai
Bekerja di bawah
perintah pihak lain
(pengusaha/majikan)

Tidak di bawah
perintah/pimpinan pihak
lain

Bekerja di bawah
perintah negara

Resiko ditanggung
pengusaha/majikan

Resiko ditanggung
sendiri
Resiko ditanggung
pemerintah.
Menerima upah/gaji
Menerima
keuntungan/laba

Menerima gaji/upah

Diatur oleh UU dan
peraturan
Ketenagakerjaan

Tidak ada aturan khusus
yang mengatur.

Diatur oleh UU No
8 Tahun 1974 jo UU
No. 43 Tahun 1999.

  
Daftar Pustaka:
[2] Pengertian, tujuan, sifatAsas dan landasan, oleh: Dr. Agusmidah, SH. M. Hum

Note: Tulisan ini dibuat tidak dalam rangka tugas sekolah atau keperluan ilmiah, hanya untuk menjawab pertanyaan penulis saja. Jadi harap maklum kalau Daftar Pustakanya seadanya :D

Monday, March 15, 2010

Ayo Smangat, Nanda!

Berikut ini adalah sebuah kisah yg kudapat dari sebuah milis...
So inspiring..
Menjadi semprotan semangat di tengah sisa semangat yang hampis habis dalam meneruskan studi ini...

-------------------------------------------------------------------

Waktu itu, sekitar tahun 2000, datang seorang mahasiswi kepada seorang dosen, dia menghampirinya dengan wajah yang muram, dan kemudian berkata, "Pak, beasiswa Program Magister dan Doktor saya lolos". Dan hanya itu saja kata2 yang keluar dari mulutnya, tanpa diikuti ekspresi apapun dari wajahnya... mengingat di luar sana berjuta - juta orang memimpikan pencapaian ini. Dan sang dosen tertegun, kemudia dia berkata, "Bagus donk dek, kamu bisa bikin bangga banyak orang, dan itu merupakan jalan hidup yang sangat baik. Lalu apa yang membuat kamu terlihat bimbang dek." 

Akhirnya mahasiswi itu bercerita kepada sang dosen. "Pak, sekolah hingga S2 dan S3 merupakan cita-cita saya sejak kecil, ini adalah mimpi saya, tidak terbayangkan rasa bahagia saya saat memperoleh surat penerimaan beasiswa ini.... Tapi pak, saya ini akhwat, saya wanita, dan saya bahagia dengan keadaan ini.. Saya tidak memiliki ambisi besar, saya hanya senang belajar dan menemukan hal baru, tidak lebih.. Saya akan dengan sangat ikhlas jika saya menikah dan suami saya menyuruh saya untuk menjadi ibu rumah tangga.. Lalu, dengan semua keadaan ini, apa saya masih harus sekolah?? saya takut itu semua menjadi mubazir, karena mungkin ada hal lain yang lebih baik untuk saya jalani."

Pak dosen pun terdiam, semua cerita mahasiswinya adalah logika ringan yang sangat masuk akal, dan dia tidak bisa disalahkan dengan pikirannya.. . Dosen itu pun berfikir, memejamkan mata, menunggu Allah SWT membuka hatinya, memasukkan jawaban dari pertanyaan indah ini...

Dan jawaban itu datang kepadanya, masuk ke dalah ide nya.... Pak dosen berkata seperti ini kepada mahasiswinya. . "Dek, sekarang bertanyalah kepada hati kecil mu, apa dia masih menginginkan dirimu untuk melanjutkan pendidikan ini hingga puncak nanti.." .. Sang mahasiswi bingung, dia menunduk , air mata turun dari kedua matanya, seakan dia merasakan konflik hati yang sangat besar ... yang saling ingin meniadakan.. Dosen itu melanjutkan nasehatnya.. "Dek, saya ingin bertanya kepadamu, kapan pertama kali engkau berhadapan dengan seorang S3 dan mendapat ilmu darinya?" "Sejak saya kuliah di ITB , Pak." Jawab sang gadis. Kemudian dosen itu melanjutkan ,"Ya dek, betul, saya pun demikian, saya baru diajar oleh seorang lulusan S3 semenjak saya kuliah di kampus ini.. Tapi dek, coba adek fikirkan, bahwa saat engkau memiliki anak, maka orang pertama yang akan menyapih rambut anakmu adalah seorang lulusan S3. Orang yang pertama mengajaknya berjalan adalah seorang ilmuwan tinggi, dan sejak dia mulai membaca, dia akan dibimbing dan dijaga oleh seorang Doktor. Itulah peranmu sebagai ibu nanti, apakah engkau bisa membayangkan betapa beruntungnya anak manusia yang akan kau lahirkan nanti." Dan itulah jawaban Allah SWT melalui pak dosen.... Mahasiswi itu tersadar dari konflik panjangnya, dan ia tersenyum bahagia, sangat bahagia, air matanya menjadi air mata haru, dan ia berdiri, mengucapkan terima kasih nya kepada sang dosen, dan berkata , "Pak, terima kasih, akan saya lanjutkan pendidikan ini hingga tidak satupun puncak lagi yang menghalangi saya."

Betapa hidup itu sangat berarti, dan jadikan ia bermakna..
Bukan uang yang nanti akan membuatmu bahagia, tetapi rasa syukur mu lah yang akan menjadi kebahagiaan yang hakiki,.


Dari sebuah milis
Based on Dr. Hermawan Dipojono story... Lecture from Physics Engineering, ITB .

Wednesday, March 10, 2010

Kebahagiaan Bersama Rasulullah


"Adakah yang lebih membahagiakan daripada dapat memandang wajah-Nya dan bersama dgn Rasulullah tercinta?"
Mari terus bangga menjadi muslim/ah yang komit untuk menjalankan aturan-aturan Allah dan Rasul-Nya dimana pun...kapan pun...
Ya muqallibal quluub,,tsabbit qalbii 'ala diinika wa 'alaa thaa'atika...

---------------------------------------------------------------------------------------
Oleh A Ilyas Ismail
Kebahagiaan bersama Nabi Muhammad SAW sesungguhnya tak hanya milik para sahabat dan kaum Muslimin yang hidup di awal periode Islam. Kebahagiaan itu juga milik semua orang yang beriman kepada beliau, meskipun mereka tidak pernah bertemu dan melihatnya secara langsung.
Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa Rasul SAW memberikan penghormatan lebih besar justru kepada orang-orang Islam generasi belakangan. Katanya, ''Berbahagialah orang yang melihatku dan beriman kepadaku, lalu berbahagialah (Rasul mengulang tiga kali) orang yang tidak melihatku, tetapi beriman kepadaku.'' (HR Ahmad dari Abi Sa`id al-Khudri).
Dalam hadis Ahmad yang lain dari Abi Umamah, juga dari Anas Ibn Malik, diterangkan bahwa penghormatan Nabi itu diungkapkan bukan tiga kali, melainkan tujuh kali. Pertanyaannya, mengapa Rasul memberikan penghargaan begitu besar justru kepada orang-orang yang beriman dari generasi belakangan? Apakah penghormatan itu pantas buat mereka?
Jawabannya, penghargaan itu tentu saja tepat dan pantas buat mereka karena tiga alasan berikut ini.
Pertama, mereka beriman kepada Rasul meski tak pernah melihat dan bertemu beliau secara langsung. Mereka tetap beriman meski tidak menyaksikan wibawa dan mukjizat Rasul dalam kehidupan sehari-hari. Ini merupakan suatu keutamaan. Di sini, menurut al-Manawi, pengarang Faydh al-Qadir, terkandung 'kekuatan iman' yang sangat kuat pada kaum Muslim generasi belakangan.
Kedua, bila kaum Muslim generasi awal mendapat kemuliaan karena fitnah dan ujian berat yang mereka derita, maka fitnah dan ujian yang sama juga bisa menimpa kaum Muslim generasi belakangan, bahkan bisa lebih berat lagi. Ingat sabda Nabi, ''Islam datang sebagai sesuatu yang asing, dan akan kembali menjadi asing, maka berbahagialah orang-orang yang asing.'' (HR Muslim dari Abu Hurairah).
Ketiga, penghormatan itu berkenaan dengan peluang dan kesempatan dakwah yang dimiliki kaum Muslim generasi sekarang. Dengan memanfaatkan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, kaum Muslim sekarang bisa berdakwah dan mengembangkan Islam secara lebih luas, tak hanya pada tataran nasional, tapi juga regional dan global.
Dengan begitu, kaum Muslim sekarang bisa memperoleh keutamaan, seperti kaum Muslim generasi awal, bahkan keutamaan yang lebih besar, asalkan mereka teguh beriman kepada Rasul, mengikuti ajaran dan sunahnya, serta berjihad dan mendakwahkan Islam dengan segala kemampuan dan kekuatan yang dimiliki di tengah-tengah masyarakat yang makin rusak dan jauh dari petunjuk Islam.

Friday, March 5, 2010

Resep Pernikahan Langgeng

Ini resep langgengnya pernikahan versi Kompas.com :)
Selamat membaca...

-------------------------------------------------------------------------------------------------------

Pada awal pernikahan, rasa senang yang membuncah membuat Anda merasa tak akan ada yang bisa membuat Anda dan dia terpisah. Padahal, ada lho, ranjau-ranjau yang bisa membuat pernikahan Anda dan dia rapuh. Supaya itu tidak terjadi, jagalah pernikahan Anda dengan resep hubungan langgeng dengan 4 langkah dari buku Simple Steps to Take Your Marriage from Good to Great karangan Terri L Orbuch, Ph.D. Terri, yang meneliti 373 pasangan selama 22 tahun, mengatakan, perubahan-perubahan kecil pada sikap dan tingkah laku sehari-hari pun bisa mengubah hubungan yang biasa saja menjadi luar biasa. Berikut adalah hal-hal yang ia temui dari para responden yang pernikahannya bahagia.

Ada ”Saling
”Alasan terutama mengapa pernikahan tidak bisa tetap bersatu bukanlah konflik, komunikasi, ataupun ketidakpuasan seks,” kata Orbuch. Menurut dia, rasa frustrasi, yakni kekecewaan dari hari ke hari karena adanya perbedaan dari ekspektasi Anda terhadap pasangan dan bagaimana si pasangan bersikap adalah yang paling berbahaya. Untuk menjembatani frustrasi tersebut, Anda harus menyuarakan ekspektasi masing-masing. Entah itu keinginan Anda untuk bisa mendapatkan afeksi lebih sering atau ia ingin lebih banyak waktu bersantai berdua. Harus ada pula kesepakatan dan komitmen untuk bisa menyatukan kebutuhan masing-masing. Keinginan untuk saling membuat pasangannya merasa bahagia pun harus ditumbuhkan. Orbuch mengingatkan agar selalu menanyakan hal ini kepada pasangan, setidaknya setahun sekali, karena tekanan kehidupan bisa berubah dan menciptakan ekspektasi baru.

Tunjukkan Rasa Sayang
Para suami yang memberikan afirmasi (tindakan dan ucapan yang membuat si penerima merasa diapresiasi, dihargai, dan dicintai) kepada istrinya, memiliki kemungkinan dua kali lipat untuk mengklasifikasi dirinya sebagai pria yang bahagia dalam pernikahan. Penelitian yang didapatkan Orbuch mengatakan, pria justru butuh afirmasi lebih banyak ketimbang wanita. ”Wanita secara konstan mendapatkan pujian dari teman atau bahkan orang asing yang bisa saja memuji pakaiannya atau riasannya,” ujar Orbuch. Hal semacam ini akan sulit didapat oleh pria. Karena itu, pria haus dan mengandalkan pujian-pujian itu datang dari istrinya. Cobalah untuk menunjukkan rasa sayang dan kagum kepada suami, Anda akan mendapatkan balasan yang menyenangkan darinya.

Aturan 10 Menit
Kencan mingguan memang direkomendasikan sebagai cara untuk menjalin hubungan, tetapi kadang yang Anda butuhkan adalah hanya beberapa menit saja bersamanya. ”Saya menyebutnya Aturan 10 Menit. Artinya, sisihkan waktu sebanyak 10 menit per hari untuk membicarakan segalanya, kecuali hal-hal yang membebani Anda, seperti anak-anak, tanggung jawab, dan tugas,” saran Orbuch. Penelitian Orbuch mengatakan, 98 persen pasangan bahagia mengatakan, mereka secara intim mengenal pasangannya. Mengetahui pasangan secara intim bukan berarti harus berbicara bahasa yang pelik dengan suami. Namun, lebih kepada pembicaraan yang membantu Anda dan pasangan lebih dekat. Anda bisa membangun ikatan dengan membicarakan hal-hal ringan yang bisa menunjukkan siapa diri Anda dan dirinya, kesukaannya, kelebihannya, dan kelemahannya.

Fokus pada Hal yang Baik
”Cara terefektif untuk membangun rasa senang dan gairah dalam hubungan adalah dengan menambahkan elemen positif dalam pernikahan Anda,” kata Orbuch. Energi positif membuat kita merasa lebih baik dan memotivasi kita untuk tetap jalan di arah yang terbaik. Ini bukan berarti Anda tak boleh merasakan atau membicarakan hal yang negatif. Namun, coba lakukan perbandingannya. Jika Anda menginginkan hubungan yang lebih bahagia, sisi positif perlu melebihi sisi negatif. Semakin Anda menghargai rasa cinta dan bahagia dalam hubungan Anda, semakin cepat Anda membentuk pernikahan Anda menjadi hal yang hebat.

http://female.kompas.com/read/xml/2010/03/05/12510210/Resep.Pernikahan.Langgeng

Kangen Makan Permen Karet :D

Udah lama emang ga makan permen karet :D



Singapore sticks to ban on chewing gum


Singapore sticks to ban on chewing gum
SINGAPORE (AFP) - – Singapore on Thursday stuck to its 18-year ban on the import and sale of chewing gum, which has become an international symbol of the city-state's image as a strict society.
"The government stands by its decision to ban chewing gum," Maliki Osman, parliamentary secretary at the Ministry of National Development, told parliament.
"Chewing gum has not been a significant problem since that ban took effect. There have been concerns that lifting the ban on chewing gum could result in chewing gum litter and undermine ongoing efforts to curb littering," he said.
Osman said as the reason for the imposition of the ban is still valid, "the government's position is that the ban shall remain."
He was responding to a question in parliament from a fellow member of the ruling People's Action Party who asked when the ban would be lifted, arguing it had been used by Singapore's detractors to criticise its tough governance laws.
Singapore, known worldwide for its squeaky clean image, banned the import and sale of chewing gum in 1992 in a bid to eradicate the problem of people sticking the gum on chairs, tables, lifts and other public areas.
One of the key reasons for the ban had been the disruption of services on Singapore's subway train system because of chewing gum being stuck on the doors and causing delays.
Singapore partially lifted the ban in 2004 by allowing the sale of chewing gum for therapeutic purposes after the conclusion of a US-Singapore Free Trade Agreement.
http://sg.news.yahoo.com/afp/20100304/tap-singapore-society-gum-06f3cb7.html


Wednesday, November 26, 2008

Empati

Dari beberapa tulisan Andi F. Noya yang kubaca, ntah kenapa aku selalu suka dgn tulisan-tulisan itu. Mungkin karena cara beliau menuliskan dan mengemasnya itu yang bagus yang membuat aku selalu ga bosan membacanya, padahal tema yang diangkat bisa dikatakan tema-tema ringan yang acap kali kita jumpai dalam kehidupan kita sehari-hari atau bahkan udah pernah pula kita dengar dari orang lain. Mungkin karena beliau menuliskannya dari hati juga kali ya? sehingga nyampenya ke hati juga, hehe...Disamping memang karena kualitas nya sebagai seorang penulis dan jurnalis yang tidak usah diragukan lagi.
Berikut saya (kembali) copy and paste tulisan beliau. Mungkin udah banyak pernah membacanya karena ini memang tersebar di milis-milis. Tapi tak apalah dan masih enak untuk dibaca yang kedua kali kok,hehe

EMPATI
By: Andy F Noya

Suatu malam, sepulang kerja, saya mampir di sebuah restoran cepat saji di kawasan Bintaro. Suasana sepi. Di luar hujan. Semua pelayan sudah berkemas. Restoran hendak tutup. Tetapi mungkin melihat wajah saya yang memelas karena lapar, salah seorang dari mereka memberi aba-aba untuk tetap melayani. Padahal, jika mau, bisa saja mereka menolak.

Sembari makan saya mulai mengamati kegiatan para pelayan restoran. Ada yang menghitung uang, mengemas peralatan masak, mengepel lantai dan ada pula yang membersihkan dan merapikan meja-meja yang berantakan.

Saya membayangkan rutinitas kehidupan mereka seperti itu dari hari ke hari. Selama ini hal
tersebut luput dari perhatian saya. Jujur saja, jika menemani anak-anak makan di restoran cepat saji seperti ini, saya tidak terlalu hirau akan keberadaan mereka. Seakan mereka antara ada dan tiada. Mereka ada jika saya membutuhkan bantuan dan mereka serasa tiada jika saya terlalu asyik menyantap makanan.

Namun malam itu saya bisa melihat sesuatu yang selama ini seakan tak terlihat. Saya melihat bagaimana pelayan restoran itu membersihkan sisa-sisa makanan di atas meja. Pemandangan yang sebenarnya biasa-biasa saja. Tetapi, mungkin karena malam itu mata hati saya yang melihat, pemandangan tersebut menjadi istimewa.

Melihat tumpukan sisa makan di atas salah satu meja yang sedang dibersihkan, saya bertanya-tanya dalam hati: siapa sebenarnya yang baru saja bersantap di meja itu? Kalau dilihat dari sisa-sisa makanan yang berserakan, tampaknya rombongan yang cukup besar. Tetapi yang menarik perhatian saya adalah bagaimana rombongan itu meninggalkan sampah bekas makanan.

Sungguh pemandangan yang menjijikan. Tulang-tulang ayam berserakan di atas meja. Padahal ada kotak-kotak karton yang bisa dijadikan tempat sampah. Nasi di sana-sini. Belum lagi di bawah kolong meja juga kotor oleh tumpahan remah-remah.

Mungkin rombongan itu membawa anak-anak.

Meja tersebut bagaikan ladang pembantaian. Tulang belulang berserakan. Saya tidak habis pikir bagaimana mereka begitu tega meninggalkan sampah berserakan seperti itu. Tak terpikir oleh mereka betapa sisa-sisa makanan yang menjijikan itu harus dibersihkan oleh seseorang, walau dia seorang pelayan sekalipun.

Sejak malam itu saya mengambil keputusan untuk membuang sendiri sisa makanan jika bersantap di restoran semacam itu. Saya juga meminta anak-anak melakukan hal yang sama. Awalnya tidak mudah. Sebelum ini saya juga pernah melakukannya.

Tetapi perbuatan saya itu justru menjadi bahan tertawaan teman-teman.

Saya dibilang sok kebarat-baratan. Sok menunjukkan pernah keluar negeri.

Sebab di banyak negara, terutama di Eropa dan Amerika, sudah jamak pelanggan membuang sendiri sisa makanan ke tong sampah.

Pelayan terbatas karena tenaga kerja mahal.

Sebenarnya tidak terlalu sulit membersihkan sisa-sisa makanan kita. Tinggal meringkas lalu membuangnya di tempat sampah. Cuma butuh beberapa menit. Sebuah perbuatan kecil. Tetapi jika semua orang melakukannya, artinya akan besar sekali bagi para pelayan restoran.

Saya pernah membaca sebuah buku tentang perbuatan kecil yang punya arti besar. Termasuk kisah seorang bapak yang mengajak anaknya untuk membersihkan sampah di sebuah tanah kosong di kompleks rumah mereka. Karena setiap hari warga kompleks melihat sang bapak dan anaknya membersihkan sampah di situ, lama-lama mereka malu hati untuk membuang sampah disitu.

Belakangan seluruh warga bahkan tergerak untuk mengikuti jejak sang bapak itu dan ujung-ujungnya lingkungan perumahan menjadi bersih dan sehat. Padahal tidak ada satu kata pun dari bapak tersebut. Tidak ada slogan, umbul-umbul, apalagi spanduk atau baliho. Dia hanya memberikan keteladanan. Keteladanan kecil yang berdampak besar.

Saya juga pernah membaca cerita tentang kekuatan senyum. Jika saja setiap orang memberi senyum kepada paling sedikit satu orang yang dijumpainya hari itu, maka dampaknya akan luar biasa. Orang yang mendapat senyum akan merasa bahagia. Dia lalu akan tersenyum pada orang lain yang dijumpainya. Begitu seterusnya, sehingga senyum tadi meluas
kepada banyak orang.

Padahal asal mulanya hanya dari satu orang yang tersenyum.

Terilhami oleh sebuah cerita di sebuah buku "Chiken Soup", saya kerap membayar karcis tol
bagi mobil di belakang saya. Tidak perduli siapa di belakang. Sebab dari cerita di buku itu,
orang di belakang saya pasti akan merasa mendapat kejutan. Kejutan yang menyenangkan.
Jika hari itu dia bahagia, maka harinya yang indah akan membuat dia menyebarkan virus
kebahagiaan tersebut kepada orang-orang yang dia temui hari itu. Saya berharap virus itu
dapat menyebar ke banyak orang.

Bayangkan jika Anda memberi pujian yang tulus bagi minimal satu orang setiap hari.

Pujian itu akan memberi efek berantai ketika orang yang Anda puji merasa bahagia

dan menularkan virus kebahagiaan tersebut kepada orang-orang di sekitarnya.

Anak saya yang di SD selalu mengingatkan jika saya lupa mengucapkan kata "terima kasih"
saat petugas jalan tol memberikan karcis dan uang kembalian. Menurut dia, kata "terima kasih" merupakan "magic words" yang akan membuat orang lain senang. Begitu juga kata "tolong" ketika kita meminta bantuan orang lain, misalnya pembantu rumah tangga kita.

Dulu saya sering marah jika ada angkutan umum, misalnya bus, mikrolet, bajaj, atau angkot
seenaknya menyerobot mobil saya.

Sampai suatu hari istri saya mengingatkan bahwa saya harus berempati pada mereka.

Para supir kendaraan umum itu harus berjuang untuk mengejar setoran.

"Sementara kamu kan tidak mengejar setoran?''

Nasihat itu diperoleh istri saya dari sebuah tulisan almarhum Romo Mangunwijaya.

Sejak saat itu, jika ada kendaraan umum yang menyerobot seenak udelnya, saya segera teringat nasihat istri tersebut.

Saya membayangkan, alangkah indahnya hidup kita jika kita dapat membuat orang lain bahagia.

Alangkah menyenangkannya jika kita bisa berempati pada perasaan orang lain.

Betapa bahagianya jika kita menyadari dengan membuang sisa makanan kita di restoran cepat saji, kita sudah meringankan pekerjaan pelayan restoran.

Begitu juga dengan tidak membuang karcis tol begitu saja setelah membayar, kita sudah meringankan beban petugas kebersihan. Dengan tidak membuang permen karet sembarangan, kita sudah menghindari orang dari perasaan kesal karena sepatu atau
celananya lengket kena permen karet.

Kita sering mengaku bangsa yang berbudaya tinggi tetapi berapa banyak di antara kita yang ketika berada di tempat-tempat publik, ketika membuka pintu, menahannya sebentar dan menoleh kebelakang untuk berjaga-jaga apakah ada orang lain di belakang kita? Saya pribadi sering melihat orang yang membuka pintu lalu melepaskannya begitu saja tanpa perduli orang di belakangnya terbentur oleh pintu tersebut.

Jika kita mau, banyak hal kecil bisa kita lakukan. Hal yang tidak memberatkan kita
tetapi besar artinya bagi orang lain. Mulailah dari hal-hal kecil-kecil. Mulailah dari diri Anda lebih dulu. Mulailah sekarang juga.