Showing posts with label pernikahan. Show all posts
Showing posts with label pernikahan. Show all posts

Friday, March 5, 2010

Resep Pernikahan Langgeng

Ini resep langgengnya pernikahan versi Kompas.com :)
Selamat membaca...

-------------------------------------------------------------------------------------------------------

Pada awal pernikahan, rasa senang yang membuncah membuat Anda merasa tak akan ada yang bisa membuat Anda dan dia terpisah. Padahal, ada lho, ranjau-ranjau yang bisa membuat pernikahan Anda dan dia rapuh. Supaya itu tidak terjadi, jagalah pernikahan Anda dengan resep hubungan langgeng dengan 4 langkah dari buku Simple Steps to Take Your Marriage from Good to Great karangan Terri L Orbuch, Ph.D. Terri, yang meneliti 373 pasangan selama 22 tahun, mengatakan, perubahan-perubahan kecil pada sikap dan tingkah laku sehari-hari pun bisa mengubah hubungan yang biasa saja menjadi luar biasa. Berikut adalah hal-hal yang ia temui dari para responden yang pernikahannya bahagia.

Ada ”Saling
”Alasan terutama mengapa pernikahan tidak bisa tetap bersatu bukanlah konflik, komunikasi, ataupun ketidakpuasan seks,” kata Orbuch. Menurut dia, rasa frustrasi, yakni kekecewaan dari hari ke hari karena adanya perbedaan dari ekspektasi Anda terhadap pasangan dan bagaimana si pasangan bersikap adalah yang paling berbahaya. Untuk menjembatani frustrasi tersebut, Anda harus menyuarakan ekspektasi masing-masing. Entah itu keinginan Anda untuk bisa mendapatkan afeksi lebih sering atau ia ingin lebih banyak waktu bersantai berdua. Harus ada pula kesepakatan dan komitmen untuk bisa menyatukan kebutuhan masing-masing. Keinginan untuk saling membuat pasangannya merasa bahagia pun harus ditumbuhkan. Orbuch mengingatkan agar selalu menanyakan hal ini kepada pasangan, setidaknya setahun sekali, karena tekanan kehidupan bisa berubah dan menciptakan ekspektasi baru.

Tunjukkan Rasa Sayang
Para suami yang memberikan afirmasi (tindakan dan ucapan yang membuat si penerima merasa diapresiasi, dihargai, dan dicintai) kepada istrinya, memiliki kemungkinan dua kali lipat untuk mengklasifikasi dirinya sebagai pria yang bahagia dalam pernikahan. Penelitian yang didapatkan Orbuch mengatakan, pria justru butuh afirmasi lebih banyak ketimbang wanita. ”Wanita secara konstan mendapatkan pujian dari teman atau bahkan orang asing yang bisa saja memuji pakaiannya atau riasannya,” ujar Orbuch. Hal semacam ini akan sulit didapat oleh pria. Karena itu, pria haus dan mengandalkan pujian-pujian itu datang dari istrinya. Cobalah untuk menunjukkan rasa sayang dan kagum kepada suami, Anda akan mendapatkan balasan yang menyenangkan darinya.

Aturan 10 Menit
Kencan mingguan memang direkomendasikan sebagai cara untuk menjalin hubungan, tetapi kadang yang Anda butuhkan adalah hanya beberapa menit saja bersamanya. ”Saya menyebutnya Aturan 10 Menit. Artinya, sisihkan waktu sebanyak 10 menit per hari untuk membicarakan segalanya, kecuali hal-hal yang membebani Anda, seperti anak-anak, tanggung jawab, dan tugas,” saran Orbuch. Penelitian Orbuch mengatakan, 98 persen pasangan bahagia mengatakan, mereka secara intim mengenal pasangannya. Mengetahui pasangan secara intim bukan berarti harus berbicara bahasa yang pelik dengan suami. Namun, lebih kepada pembicaraan yang membantu Anda dan pasangan lebih dekat. Anda bisa membangun ikatan dengan membicarakan hal-hal ringan yang bisa menunjukkan siapa diri Anda dan dirinya, kesukaannya, kelebihannya, dan kelemahannya.

Fokus pada Hal yang Baik
”Cara terefektif untuk membangun rasa senang dan gairah dalam hubungan adalah dengan menambahkan elemen positif dalam pernikahan Anda,” kata Orbuch. Energi positif membuat kita merasa lebih baik dan memotivasi kita untuk tetap jalan di arah yang terbaik. Ini bukan berarti Anda tak boleh merasakan atau membicarakan hal yang negatif. Namun, coba lakukan perbandingannya. Jika Anda menginginkan hubungan yang lebih bahagia, sisi positif perlu melebihi sisi negatif. Semakin Anda menghargai rasa cinta dan bahagia dalam hubungan Anda, semakin cepat Anda membentuk pernikahan Anda menjadi hal yang hebat.

http://female.kompas.com/read/xml/2010/03/05/12510210/Resep.Pernikahan.Langgeng

Saturday, January 19, 2008

Belajar dari kisah orang lain : Married

"Berdasarkan pengalaman pribadi (hehehe...) memiliki pasangan (pacar or tunangan) dengan menikah itu bisa berbedaa banget. Saya termasuk orang yang cepet banget punya pasangan.
Dan masa pacaran yang pertama itu nyaris 10 tahun dari SMP sampai kuliah (hihihi). Tapi gak tau kenapa, dari awal saya udah merasa bahwa pacar yang ini bukan calon suami yang
akan mendampingi saya sesisa umur saya. Padahal dia tuh orangnya baiiiiiiik banget.
sabaaaaar bangeeeet. ngertiiii iiiiiiiin banget dan banyak hal-hal baiiiiiiiik banget yang dia miliki. Hanya saja sejalan dengan perkembangan umur perkembangan minat perkembangan lain- lain saya merasa bahwa dia tidak akan mampu mendampingi saya yang maunya banyaaaaaaaaak banget.

Jadinya kita pun putus baik-baik dengan perencanaan tanpa rame-rame (walaupun akhirnya seluruh keluarga geger abis) dan membutuhkan waktu hampir 2 tahun untuk menyelesaikan banyak hal.

Kemudian saya kenal dengan suami saya sekarang ini. Masa pacaran juga lamaaaa banget... sekitar 3 or 4 tahun gitu...pokoknya udah bikin semua ilfil... bosen... dan cape nanya ...
(tapi aku keukeuh sukeukeuh... tidak tergoda untuk menanggapi). ..
Calon mertua juga udah cape nanya , cape mengancam ...cape ngeliat kita gak jelas
juntrungannya. .. Teman-teman, sodara, calon gebetan (belum sempet nggebet siiih...) sudah berdebar-debar menunggu... jalan terus apa bubar. Sampai akhirnya... tiba- tiba saya mau
aja diajakin married...

Begitulah... begitu married...
astaga... kemana itu yang namanya pacaran tahun-tahunan. ..
Yang namanya pacar sama suami itu beda banget...
(hehehe. ...maaf para suami !).

Mungkin dia juga mikir... pacar sama isteri juga bedaaaaa banget. Padahal.. rasanya waktu pacaran itu semua stok sifat buruk udah keluar semua... (iyalah.. pacaran segitu lama...rumah juga gak jauh-jauh amat..masih satu lingkungan.. .hikksss. ..).

Tapi ternyata ada modifikasi sifat... ada kebutuhan baru yang nggak kepikiran sebelumnya.
Contoh paling sederhana... jaman pacaran sih kita (cewek) seneng aja membuatkan minuman buat sang pacar. Giliran married...duuuh. ..bangun tidur diminta bikinkan coklat susu sementara  kita juga masih nguanttuuuukkkk. ...(tau aja kan manten baru...)... rasanya darah udah naik ke kepala... Trus... karena belum punya pembokat (walaupun udah misah rumah sama mertua)...kita kan harus cuci pakaian sendiri. Tuuhh si Tuan besar enak aja ngelempar
celana sama bajunya ke pojokan kamar... Duaaaar.. apa gak kepala mo meledak rasanya ?
Biasa kan kamar cewek tuh rapi dan teratur..tiba- tiba jadi kayak kapal pecah !

Masih ada lagi dosanya... kalo mencet odol... pasti dari tengah... dan gak pernah ditutup lagi !!!! ( ...setelah saya baca di banyak artikel mengenai pria...ternyata urusan mencet odol ini memang sudah menjadi bagian perilakunya. ..hahaha...) ...

kalo nonton tv kerjanya mainin remote control sampe kita senewen ngeliatnya.. .
kalo udah berkutat sama hobinya kita ditinggalin begitu saja...

Hal-hal kecil itu...dan kadang ada hal besar juga... memang menjadi agenda dan kurikulum perkawinan.

Lima tahun pertama... urusannya masih perang antar suku...(silang pendapat, pertandingan egoisme, mencari jati diri sebagai isteri dan suami)...

Lima tahun kedua...urusannya udah mulai ke visi dan misi mengenai pendidikan anak...

Lima tahun ke tiga...urusannya udah ke pengembangan karier dan rumahtangga. . (udah mulai numpuk- numpuk kekayaan...hehehe. .)...

Lima tahun ke empat urusannya udah masa depan anak...mo kemana niih anak kita...jadi udah kembali ke siklus hidup kita yang awal lagi...

Kenapa perkawinan bisa bertahan ? Jawabnya sederhana : karena KOMITMEN !!

Kita berkomitmen untuk hidup bersama dengan orang yang sangat berbeda dengan kita.
Kita berkomitmen untuk mengisi segi- segi yang kurang dari pasangan kita.

Sama seperti kita juga menerima dia untuk mengisi kekurangan kita. Justru semakin banyak kekurangan pasangan kita, maka semakin berguna hidup kita. Dan semakin banyak kekurangan kita, semakin banyak kita menerima dari pasangan kita.

Kekurangan itu tidak semakin berkurang dengan bergulirnya waktu...tapi terus bertambah.
Dan kita pun akan semakin banyak harus mengisi kekurangan pasangan kita, sementara kita juga semakin banyak menerima dari pasangan kita.

Kalau kita sudah malas berkomitmen, maka perkawinan sudah diambang pembubaran. Tidak perlu menunggu orang kedua atau ketiga. Semua itu ada dari dalam diri kita sendiri.

Jadi begitulah...
Kalo memang belum siap berkomitmen. ..
biar pun pacaran 10 tahun... 20 tahun... seyogyanya nggak usah married.
Biar aja orang lain yang cape komentar . Toh yang akan menjalankan hidup berkeluarga nanti adalah kita berdua... dan kelak anak-anak kita juga.

Memang ada yang bilang, ngapain pacaran lama-lama...kalau sudah ada yang mau ya langsung saja. Itu juga oke... bagaimana kita mampunya aja berkomitmen.

Ada yang bilang, perkawinan itu seperti main judi. Tapi judi kan seperti tebak-tebakan.
Untung-untungan. Padahal perkawinan bisa dipelajari. Saya bilang, perkawinan itu seperti
sekolah tanpa akhir... tanpa ijazah...Tiap hari kita belajar, tiap hari kita ujian..dan uji ketahanannya harus seumur hidup.

Satu hal... tidak ada perkawinan yang ideal !
Setiap pasangan memiliki pola sendiri.
Jadi kita sendirilah yang membuat perkawinan itu mau ideal apa tidak.
Jadi jangan mencontek perkawinan orang lain...
karena kita bukan menikah dengan salah satu pasangan yang ideal itu...
dan kita pun bukan pasangan ideal dari orang yang ideal di luar sana .

Yang cocok untuk orang lain, belum tentu ideal untuk kita.
Yang cocok untuk kita, belum tentu ideal buat orang lain.

Buat yang sudah married... mohon maaf kalau tidak sesuai dengan pakemnya.

Untuk yang belum married... go ahead... hidup ini punyamu sendiri kok...
Memilih menikah sekarang atau besok, adalah pilihan hidup masa depan..
Kalau mau belajar coba-coba ya monggo...ntar yang sengsara kan diri sendiri."


Sumber: Forward-an email seorang teman. Ini adalah tuturan seseorang yg dia share ke sebuah milis. Semoga bermanfaat....Tentunya kita bisa berkaca dan mengambil pelajaran dr kisah orang lain.