Showing posts with label Kisah. Show all posts
Showing posts with label Kisah. Show all posts

Thursday, December 6, 2012

Cerita di Balik Soto Ayam


Minggu lalu, aku membeli ayam kampung tidak di tempat langganan. Ya, karena aku sudah agak siang ke pasar, sehingga sudah tidak ada lagi ayam kampung yg tersisa. Akhirnya aku putuskan untuk membeli ayam kampung di tukang ayam yg tidak jauh dari situ. Aku  bilang ke si bapak untuk minta tolong dipilihkan ayam kampung yg muda. Setelah diambil, aku yakinkan kembali apakah ayamnya muda atau nggak dan si bapak menggangguk lalu deal. Hmm...aku memang belum ahli untuk memastikan ayam itu muda atau sudah tua. Selama ini aku hanya mengandalkan kepercayaan pada si penjual saja dan sepertinya ke depannya harus diubah karena ternyata tidak semua penjual bisa dipercaya (setidaknya yg aku temukan)!

Kemarin, aku berencana mengolah ayam tersebut untuk jadi ayam pop. Setelah kira-kira 30 menit, aku cek, ternyata daging ayam masih keras. Hmm...langsung yakin saja kalau ayam kampungnya ini bukan yg muda (kalau ayamnya muda, biasanya 20 menit juga udah empuk dagingnya). Aku coba tunggu beberapa menit lagi dan ternyata sudah hampr 1 jam, daging ayam itu masih saja alot. Agak kesal jg dengan si penjual ayam (buang-buang energi aja diriku secara kejadiannya udh lewat :-P). Akhirnya kumatikan kompor dan berpikir mau diapakan ayam ini selanjutnya agar tidak terbuang, karena sepertinya tidak enak untuk  disantap sebagai lauk dengan kondsi daging yg masih alot itu. Akhirnya kucoba tanya Bundaku, kali-kali ada ide. Soto ayam! Ya, sebuah ide bagus dari Bunda. Jadi daging ayam tsb di suir-suir lalu di goreng kering (sedikit beda dari soto ayam biasanya, maklumlah ini kan ceritanya memodifikasi; membuat bubur ayam jd bubur ayam spesial :D). Ditambah lagi bahan-bahan untuk toppingnya dan sebagian besar bahan-bahan untuk kuah ada di kulkas, tinggal melengkapi sedikit saja.

Bismillah, aku mulai memasak soto ayam ini, mulai dari toppingnya: aku suir-suir ayam pop (gagal) td lalu digoreng, merebus toge, membuat kentang goreng, mengiris daun bawang dan seledri serta mempersiapkan bawang goreng dan jeruk nipis, terus memasak kuahnya. 

Ini adalah kali ke-2 aku membuat soto ayam. Yang pertama belum bisa kubilang sukses karena kuahnya keenceran dan sepertinya bumbunya juga kurang. Karena itu aku berharap yg ke-2 ini bisa jauh lebih baik walaupun dibuat dengan tanpa rencana. Menjelang maghrib semua beres, tinggal menunggu waktu makan malam saja setelah maghrib. Dan alhamdulillah, soto ayam kali ini bisa dibilang sukses, terbukti dari komentar my hubby dan adikku yg bilang kalau sotonya uenak :D


Wednesday, October 3, 2012

[Kisah & Tips] Bertetangga

Aku belum pernah tinggal di Padang sebelumnya. Jadi, saat aku harus ikut suami ke kota itu artinya aku akan  memulai hidup baru. Ya, beradaptasi lagi. Kali ini adaptasinya berbeda dengan sebelum-sebelumnya. Sebelumnya statusku adalah anak kos, jadi cukup menyapa dan senyum dengan para tetangga saja dirasa sudah cukup dan mereka juga mengerti kesibukan serta status kita. Tapi sekarang tidak bisa seperti itu; status dan tanggung jawabku sudah berbeda. Maka segala teori dan informasi tentang tetangga dan cara bertetangga harus bisa dipraktekkan. Dan pada kenyataannya hal itu tidak mudah! Setidaknya bagiku. Kenapa? 
karena:
1. Aku bener-bener baru di daerah ini, tidak hanya di daerah ini tapi di kota ini, jadi aku belum mengenali kebiasaan orang-orang disini.
2. Aku tidak terlalu fasih berbahasa minang. Apalagi di rumah sehari-harinya menggunakan bahasa Indonesia ditambah udah lama tidak dilatih juga karena sebelumnya tinggal di rantau orang.
3. Hampir semua tetangga berumur jauuuh di atasku; seumuran ortuku atau malah di atas lagi. 

Setengah tahun pertama benar-benar terasa tough dan lonely. Tapi alhamdulillah, sejalan dengan waktu kondisinya makin baik. Sekarang (1,5 tahun di sini) aku sudah merasa bisa berbaur dengan mereka (walaupun belum semua), sudah bergabung dengan arisan ibu-ibu RT, bahkan para tetangga dekat selalu perhatian denganku apalagi tau kalau saat itu suamiku lagi dinas malam. Namanya masalah pasti ada, tapi setidaknya sekarang sudah bisa merasakan kehadiran tetangga dan kehidupan bermasyarakat yang sesungguhnya.

Berikut ini tips nya:
1. 5S: senyum, sapa, salam, sopan,santun.
2. Rajin memberi makanan atau minuman atau oleh-oleh kepada tetangga (yg dekat terutama) tanpa pamrih.
3. Datang ke arisan/pengajian RT. Walaupun sampai saat ini aku adalah peserta paling muda dan kadang sering tulalit dengan obrolan mereka, tapi ya cuek aja, berusaha aja biar bisa nyambung.
4. Tidak pelit saat dimintai sumbangan untuk kegiatan RT/RW atau bantuan non materi lainnya.
5. Perbanyak sabar. Tidak mungkin semua perilaku tetangga seperti yang kita inginkan. Dengan saudara sendiri satu ayahibu aja bisa nggak selalu cocok/sependapat, apalagi dengan banyak orang, heterogen lagi latar belakangnya.
6. Kita yang harus mau dan berani memulai. Untuk memulai sesuatu itu memang butuh energi tinggi, tapi ya mau nggak mau harus kita usahakan. Jangan berharap orang lain yang duluan melakukan kebaikan or menyapa kita, apalagi kita orang baru dan kecil lagi usianya di lingkungan tersebut.

Semoga bermanfaat :)


“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.” (An-Nisa`: 36)

"Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka jangan menyakiti tetangganya, dan barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka muliakan tamunya, dan barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka berkatalah yang baik, atau diam." (H.R. Bukhari & Muslim)


Monday, October 1, 2012

Study Story: (2) Masuk S2 yang tidak direncanakan, masuk S3 yang dimudahkan

2. Masuk S3 yang dimudahkan

Sebenarnya, keinginanku saat lulus S2 adalah bekerja dan/atau menikah. Lanjut S3 juga ingin tapi tidak langsung, alias butuh jeda oleh sesuatu yg baru dulu. Karena itu ikhtiar untuk melamar kerja atau pun membuka diri untuk ta'aruf ku jadikan prioritas. Tapi pada kenyataannya, beberapa bulan sebelum lulus S2 aku malah dihadapkan pada sebuah pengumuman lowongan S3 dari salah satu Universitas di Singapura dimana bidang yang aku minati ada di sana, yang membuat ku ragu apakah akan ikut ujiannya atau tidak. Kalau ikut dan ternyata lulus, aku belum siap untuk lanjut S3 langsung (ke-GR-an mode on :D). Akhirnya aku iseng untuk menghadiri presentasinya dulu dan diperolehlah info kalau kita bisa request bulan or tahun masuk S3 nya, tidak mesti dalam jangka waktu dekat. Info itu menguatkanku untuk mengikuti ujian masuknya yang ternyata diadakan langsung setelah presentasi selesai (sempat jeda beberapa jam sih). Gubrak aja karena aku (dan yg lain juga) nggak belajar sama sekali. Tapi gimana lagi, no choice. Akhirnya, Bismillah...Dengan modal apa yang ada di otak dan beberapa buku yang ada akhirnya aku beranikan diri untuk mengikuti tes tertulis dan wawancara pada hari itu (terjadi di semester akhir studi magisterku). 

Setelah wisuda pada bulan Oktober 2005, mulailah aku berikhtiar untuk mewujudkan dua keinginan utama yg sudah kutuliskan di atas. Segala urusan yang terkait dengan tes masuk S3 benar-benar sudah tidak kupikirkan lagi. Wong aku waktu itu ikut tes juga no thing to loose aja :-).

a. Ikhtiar bekerja
Tidak beberapa lama setelah wisuda, ada pembukaan lowongan penerimaan CPNS dosen oleh Kemdikbud dengan syarat minimal pendidikan S2 dan ada formasi yang sesuai dengan kualifikasiku. Karena merasa (sok) PeDe dengan nilai S1 dan S2ku, aku memutuskan untuk memasukkan aplikasi CPNS dosen di almamaterku saat itu. Di saat yg sama, aku juga menyiapkan aplikasi yang akan dimasukkan ke salah satu universitas negeri di Riau. 

Satu atau dua hari menjelang tes, kami mendapatkan informasi kalau almamaterku hanya menerima dosen tamatan S2 yg sedang berkuliah S3 atau lulusan S3, jadi bagi siapa yg tidak termasuk dua ketegori itu tidak akan lolos (walaupun sebenarnya iklan di koran dan internet dari Kemdikbud cuman menuliskan pendidikan minimal S2). Akhirnya aku dan beberapa teman senasib memutuskan untuk tidak jadi saja ikut ujian cpns. "Wong udah jelas nggak akan lolos", pikir kami. 

Saat itu, aku pun tidak bisa mengejar ujian ke Pekanbaru karena informasi dari Bandung       tersebut waktunya sangat mepet dengan hari ujian berlangsung, walaupun sebenarnya di universitas di Riau itu aku sudah dinyatakan lulus seleksi administrasi dan bisa ikut ujian yang diadakan di Pekanbaru. Maka, gagal lah ikhtiarku untuk mendapatkan pekerjaan yang kuinginkan saat itu :-).

2. Ikhtiar Taaruf
Dalam waktu yang hampir bersamaan, aku dikenalkan oleh seorang adik ke seorang ikhwan dan proses taaruf pun di mulai. Di awal-awal, proses taarufnya lancar dan mengesankan. Tapi ternyata tidak di ujungnya. Walaupun sudah bertemu keluargaku dan dinyatakan OK, tetapi tidak demikian saat isu ini di bawa ke keluarganya. Akhirnya rencana yang sudah hampir matang di keluargaku, batal. Dan ikhtiar menikah pun tidak berhasil.

Mari kita kembali lagi ke proses masuk S3 :-D. Oktober 2005 aku wisuda S2, selanjutnya waktuku diisi dengan membantu penelitian seorang dosen, diselingi dengan ikhtiar-ikhtiar diatas yang ujungnya tidak seperti yang kuharapkan, hehe...Surprisingly, Januari 2006, aku menerima email dari universitas Singapura itu yang menyatakan bahwa aku bisa lanjut ke tes berikutnya yaitu tes administratif. Aku diminta untuk mengirimkan segala persyaratan administratif yang ada. Kaget plus senang karena berita ini seperti penghibur dari kegagalan ikhtiar kerja yg terjadi sebelumnya, walaupun dalam hati aku masih mempertanyakan kesiapan diriku untuk kembali melanjutkan studi. Hmm.....

Awal Juni, via email, aku dinyatakan diterima, dengan syarat menyetujui poin-poin yg tercantum di dalam offer letter. Bismillah, kuputuskan untuk menerima tawaran tersebut. Dan resmilah pada 7 Agustus 2006 aku menjadi mahasiswa Ph.D di salah satu universitas negeri di Singapura itu :-).

-The End-

Friday, September 28, 2012

Study Story: (1) Masuk S2 yang tidak direncanakan, masuk S3 yang dimudahkan

Setelah jalan untuk menjadi dokter itu sepertinya sudah tertutup, maka aku bertekad untuk terus fokus meneruskan studiku dijurusan Kimia ini dan harus sampai pada tingkat yg paling tinggi, yaitu S3. "Terlanjur basah ya sudah mandi sekalian", pikirku. Tapi aku tidak pernah berfikir bahwa studiku berlanjut terus tanpa putus. Ada keinginan bekerja dulu saat lulus S1 atau S2. Tetapi ternyata tidak seperti itu jalannya kata ALLAH :-)

1. S2 yang tidak direncanakan

Setelah wisuda sarjana pada bulan Juli 2003, seorang dosen yg saat itu ditempatkan menjadi salah satu kepala divisi di rektorat ITB bagian Sumber Daya Manusia, mengajakku untuk masuk tim nya. Kata beliau sampai aku dapat kerja tetap. Saat itu aku membantu beliau tidak di bidang kimia. Liat aja nama divisinya, bisa ditebak kan? hehe...Tidak lama berselang, aku juga dapat tawaran via telepon dari ***farma untuk wawancara kerja disana. Aku tidak tau juga darimana mereka tau nomor hpku dan kenapa aku ditelepon. Kalau dari informasi yg aku dengar, mereka minta daftar nama dan nomor telepon anak-anak yang lulus cum laude dari jurusan (or kampus?). CMIIW...

Dua tawaran tadi sebenarnya cukup membuatku bingung: 1. tawaran kerja part time di rektorat, 2. tawaran wawancara di ***farma. Aku bingung karena aku masih setengah hati untuk kerja di perusahaan obat. Lalu kucoba untuk mendiskusikannya dengan orang tua dan disana tercetuslah ide tambahan yaitu lanjut S2. Jadi ada tiga opsi sekarang. Gubrak! :D. Setelah selesai diskusi, pilihan kembali mengerucut menjadi dua yaitu A. memenuhi undangan wawancara ***farma atau B. part time job di rektorat sambil studi S2. Opsi B sounded interesting dan aku mulai berat ke pilihan itu. Aku coba bantu lagi dengan sholat istikhorah hingga akhirnya diperoleh keputusan final untuk memilih opsi B. Besoknya segera aku urus segala syarat-syarat, maklumlah batas akhir pendaftaran udah tinggal beberapa hari lagi. Akhirnya di hari terakhir pendaftaran aku sukses tidak telat untuk memasukkan aplikasi S2 ku; S2 mandiri alias biaya sendiri dan berhasil menyandang status sebagai mahasiswa magister Kimia ITB tahun 2003.

Di minggu pertama kuliah S2, aku dapat kabar kalau 2 orang mahasiswa S2 KI yg dapat beasiswa vouche ITB mengundurkan diri. Tercetus ide untuk menanyakan ke salah seorang dosen apakah aku bisa mengisi kekosongan itu? Karena sebenarnya mereka udah terdaftar resmi jadi mahasiswa master tapi ntah kenapa membatalkan diri tiba-tiba. Subhanallah, ternyata dosen yg aku mintakan pendapatnya itu mendukungku dan berjanji untuk membantu mendapatkannya. Dan dengan pertolongan ALLAH, proses administrasi untuk pengurusan beasiswa itu lancar dan alhamdulillah statusku dari mahasiswa S2 mandiri berubah menjadi mahasiswa S2 beasiswa voucher.

Hari-hariku selanjutnya kembali disibukkan dengan aktifitas kuliah dan part time job di rektorat. Tapi beberapa bulan kemudian, jurusan menyuruhku untuk full time di jurusan baik urusan studi maupun membantu proses belajar mengajar serta urusan non akademik di jurusan.

...to be continued

Thursday, August 30, 2012

Ketika Tangan dan Kaki Berkata


Di tahun 1997 saya bertemu Chrisye sehabis sebuah acara, dan dia berkata, "Bang, saya punya sebuah lagu. Saya sudah coba menuliskan kata-katanya, tapi saya tidak puas. Bisakah Abang tolong tuliskan liriknya?"  Karena saya suka lagu-lagu Chrisye, saya katakan bisa. Saya tanyakan kapan  mesti selesai. Dia bilang sebulan. Menilik kegiatan saya yang lain, deadline  sebulan itu bolehlah. Kaset lagu itu dikirimkannya,
berikut keterangan  berapa baris lirik diperlukan, dan untuk setiap larik berapa jumlah  ketukannya, yang akan diisi dengan suku kata. Chrisye menginginkan puisi  relijius. 
Kemudian saya dengarkan lagu itu. Indah sekali. Saya suka betul.

Sesudah seminggu, tidak ada ide. Dua minggu begitu juga. Minggu ketiga inspirasi masih tertutup. Saya mulai gelisah. Di ujung minggu keempat tetap  buntu. Saya heran. Padahal lagu itu cantik jelita. Tapi kalau ide memang  macet, apa mau dikatakan. Tampaknya saya akan telepon Chrisye keesokan  harinya dan saya mau bilang, " Chris, maaf ya, macet. Sori." Saya akan  kembalikan pita rekaman itu.
           
Saya punya kebiasaan rutin baca Surah Yasin. Malam itu, ketika sampai ayat 65 yang berbunyi, A'udzubillahi minasy syaithonirrojim. "Alyauma  nakhtimu 'alaa afwahihim, wa tukallimuna aidhihim, wa tasyhadu arjuluhum  bimaa kaanu yaksibuun" saya berhenti. Maknanya, "Pada hari ini Kami akan  tutup mulut mereka, dan tangan mereka akan berkata kepada Kami, dan kaki  mereka akan bersaksi tentang apa yang telah mereka lakukan." Saya tergugah.  Makna ayat tentang Hari Pengadilan Akhir ini
luar biasa!
Saya hidupkan lagi pita rekaman dan saya bergegas memindahkan makna itu ke larik-larik lagi tersebut. Pada mulanya saya ragu apakah makna  yang sangat berbobot itu akan bisa masuk pas ke dalamnya. Bismillah.  Keragu-raguan teratasi dan alhamdulillah penulisan lirik itu selesai. Lagu  itu saya beri judul Ketika Tangan dan Kaki Berkata.

Keesokannya dengan lega saya berkata di telepon," Chris, alhamdulillah selesai". Chrisye sangat gembira. Saya belum beritahu padanya asal-usul inspirasi lirik tersebut. Berikutnya hal tidak biasa terjadilah. Ketika berlatih di kamar menyanyikannya baru dua baris Chrisye menangis, menyanyi  lagi, menangis lagi, berkali-kali.

Di dalam memoarnya yang dituliskan Alberthiene Endah, Chrisye - Sebuah Memoar Musikal, 2007 (halaman 308-309), bertutur Chrisye: Lirik yang dibuat Taufiq Ismail adalah satu-satunya lirik dahsyat sepanjang  karier, yang menggetarkan sekujur tubuh saya. Ada kekuatan misterius yang  tersimpan dalam lirik itu. Liriknya benar-benar-benar mencekam dan  menggetarkan. Dibungkus melodi yang begitu menyayat, lagu itu bertambah  susah saya nyanyikan! Di kamar, saya berkali-kali
menyanyikan lagu itu. Baru  dua baris, air mata saya membanjir. Saya coba lagi. Menangis lagi. Yanti  sampai syok! Dia kaget melihat respons saya yang tidak biasa terhadap sebuah  lagu.
Taufiq memberi judul pada lagu itu sederhana sekali, Ketika Tangan dan Kaki  Berkata. Lirik itu begitu merasuk dan membuat saya dihadapkan pada kenyataan, betapa  tak berdayanya manusia ketika hari akhir tiba. Sepanjang malam saya gelisah.  Saya akhirnya menelepon Taufiq dan menceritakan kesulitan saya. "Saya mendapatkan ilham lirik itu dari Surat Yasin ayat 65..." kata Taufiq.  Ia menyarankan saya untuk tenang saat menyanyikannya. Karena sebagaimana  bunyi ayatnya, orang memang sering kali tergetar membaca isinya. Walau sudah ditenangkan Yanti dan Taufiq, tetap saja saya menemukan kesulitan saat mencoba merekam di studio. Gagal, dan gagal lagi.
Berkali-kali saya menangis dan duduk dengan lemas. Gila! Seumur-umur, sepanjang sejarah karir saya, belum pernah saya merasakan hal seperti ini.  Dilumpuhkan oleh lagu sendiri!
Butuh kekuatan untuk bisa menyanyikan lagu itu. Erwin Gutawa yang sudah senewen menunggu lagu terakhir yang belum direkam itu, langsung mengingatkan  saya, bahwa keberangkatan ke Australia sudah tak bisa ditunda lagi. Hari  terakhir menjelang ke Australia, saya lalu mengajak Yanti ke studio,  menemani saya rekaman. Yanti sholat khusus untuk mendoakan saya. Dengan susah payah, akhirnya saya bisa menyanyikan lagu itu hingga selesai.  Dan tidak ada take ulang! Tidak mungkin. Karena saya sudah menangis dan tak  sanggup menyanyikannya lagi. Jadi jika sekarang Anda mendengarkan lagu itu,  itulah suara saya dengan getaran yang paling
autentik, dan tak terulang!  Jangankan menyanyikannya lagi, bila saya mendengarkan lagu itu saja, rasanya  ingin berlari!
Lagu itu menjadi salah satu lagu paling penting dalam deretan lagu yang pernah saya nyanyikan. Kekuatan spiritual di dalamnya benar-benarbenar meluluhkan perasaan. Itulah pengalaman batin saya yang paling dalam selama  menyanyi.

Penuturan Chrisye dalam memoarnya itu mengejutkan saya. Penghayatannya terhadap Pengadilan Hari Akhir sedemikian sensitif dan luarbiasanya, dengan  saksi tetesan air matanya. Bukan main. Saya tidak menyangka sedemikian  mendalam penghayatannya terhadap makna Pengadilan Hari Akhir di hari kiamat  kelak.

Mengenai menangis menangis ketika menyanyi, hal yang serupa terjadi dengan  Iin Parlina dengan lagu Rindu Rasul. Di dalam konser atau pertunjukan, Iin  biasanya cuma kuat menyanyikannya dua baris, dan pada baris ketiga Iin akan  menunduk dan membelakangi penonton menahan sedu sedannya. Demikian sensitif  dia pada shalawat Rasul dalam lagu tersebut.
* *

Setelah rekaman Ketika Tangan dan Kaki Berkata selesai, dalam peluncuran album yang saya hadiri, Chrisye meneruskan titipan honorarium dari produser  untuk lagu tersebut. Saya enggan menerimanya. Chrisye terkejut. "Kenapa  Bang, kurang?" Saya jelaskan bahwa saya tidak orisinil menuliskan lirik lagu  Ketika Tangan dan Kaki Berkata itu. Saya cuma jadi tempat lewat, jadi  saluran saja. Jadi saya tak berhak menerimanya. Bukankah itu dari Surah  Yasin ayat 65, firman Tuhan? Saya akan bersalah menerima sesuatu yang bukan  hak saya.
Kami jadi berdebat. Chrisye mengatakan bahwa dia menghargai pendirian saya,  tetapi itu merepotkan administrasi. Akhirnya Chrisye menemukan jalan keluar.  "Begini saja Bang, Abang tetap terima fee ini, agar administrasi rapi. Kalau  Abang merasa bersalah, atau berdosa, nah, mohonlah ampun kepada Allah. Tuhan  Maha Pengampun 'kan?" Saya pikir jalan yang ditawarkan Chrisye betul juga. Kalau saya berkeras
menolak, akan kelihatan kaku, dan bisa ditafsirkan berlebihan. Akhirnya
solusi Chrisye saya terima. Chrisye senang, saya pun senang.
* *


Pada subuh hari Jum'at, 30 Maret 2007, pukul 04.08, penyanyi legendaris Chrisye wafat dalam usia 58 tahun, setelah tiga tahun lebih keluar masuk rumah sakit, termasuk berobat di Singapura. Diagnosis yang mengejutkan adalah kanker paru-paru stadium empat. Dia meninggalkan isteri, Yanti, dan  empat anak, Risty, Nissa, Pasha dan Masha, 9 album proyek, 4 album sountrack, 20 album solo dan 2 filem. Semoga penyanyi yang lembut hati dan  pengunjung masjid setia ini, tangan dan kakinya kelak akan bersaksi tentang  amal salehnya serta menuntunnya memasuki Gerbang Hari Akhir yang semoga  terbuka lebar baginya. Amin. #


Ketika Tangan dan Kaki Berkata

Lirik    : Taufiq Ismail
Lagu   : Chrisye

Akan datang hari mulut dikunci
Kata tak ada lagi
Akan tiba masa tak ada suara
Dari mulut kita

Berkata tangan kita
Tentang apa yang dilakukannya
Berkata kaki kita
Kemana saja dia melangkahnya
Tidak tahu kita bila harinya
Tanggung jawab tiba

Rabbana
Tangan kami
Kaki kami
Mulut kami
Mata hati kami
Luruskanlah
Kukuhkanlah
Di jalan cahaya.... sempurna

Mohon karunia
Kepada kami
HambaMu yang hina
1997
Ditulis oleh : TAUFIQ ISMAIL
Sumber: email forward-an seorang teman dr sebuah milis

MP, 14 Jan 2008

Tuesday, March 18, 2008

Bus 179 A nya berhenti!

Ada kejadian yg membuat tersenyum pagi hari ini, kejadian yg nggak biasa (menurutku) di sebuah negara yg bernama Singapore yang terkenal sangat disiplin dan patuh hukum.
Kejadian itu adalah berhentinya bus 179 A di bus stop depan blockku. Seharusnya bus 179A itu tidak berhenti, bus 179 A akan jalan terus dari boonlay interchange menuju kampus NTU. Tapi kali ini tidak. Semula aku sempat kaget, kok bus ini berhenti ya? tapi krn orang-orang yg ada di bus stop pada naik dan pintu bis juga terbuka, ya aku ikut naik juga...Eh, ternyata benar, ada yg 'sesuatu' disini , yaitu si supir lupa. Aku masih ingat reaksi si supir saat dia menyadari kekeliruannya dan ini yg buat aku tersenyum sepanjang perjalanan. Bersamaan dgn aku men-tap ez-link ku, si supir setengah berteriak sambil menepuk dahinya : "oh No...forgot...This is A.." sambil tidak bisa juga dia menahan tawanya.
Hihihi lucu...lucu aja. Lucu kalau mengingat reaksi si supir, lucu juga krn aku jd beruntung ga terlalu lama nunggu bis, dan lucu juga krn ini adalah hal yg ga biasa terjadi. Singapore gitchu lho...Tapi ini juga sign bahwa manusia itu tdk lepas dari khilaf or lupa.

Mungkin aku perlu sedikit tambahkan disini informasi seputar bus 179A. Bus 179 A adalah salah satu bus yg bisa digunakan untuk pergi ke NTU selain bus 179 dan 199. Semula, hanya ada bus 179 dan 199 yg berangkat dari Boonlay interchange menuju kawasan NTU (Nanyang Technological University), tapi karena setiap pagi (jadwal berangkatnya sebagian besar mahasiswa) dan setiap sore (jadwal pulangnya sebagian besar mahasiswa) antrian selalu panjaaaaaaaaaang sekali, maka di operasikanlah bus 179 A dgn track boonlay interchange- NTU, jadi bis ini tidak akan berhenti di bus stop-bus stop yg dilalui sebelum masuk kampus NTU, dgn kata lain bis ini hanya melayani request untuk berhenti di bus stop setelah memasuki kawasan NTU. Jadi fungsinya benar-benar untuk membantu mahasiswa.
Aku sendiri tinggal di dekat bus interchange. Dan biasanya aku menunggu bis untuk ke kampus di bus stop terdekat yaitu  di bus stop pertama yg ditemui setelah interchange, so tentunya hanya bis 179 yg bisa dinaiki untuk pergi ke NTU, tapi ternyata kisah pagi ini menghasilkan kesimpulan baru yaitu bisa jg naik bis 179A dr bus stop di luar interchange jika (ada syaratnya nih) supirnya bis 179 A nya lupa, hehehe.